Jogja , 01 Mei 2018 Hay, Ram. Kau apa kabar? Bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Aku punya surat untukmu. Ini tentang aku, yang nyatanya kehilangan kamu. Ini tentang aku yang tidak bisa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Ini tentang pertemuan kita di kota Jogja. Kamu, yang mengajariku tentang banyak hal, termasuk untuk tidak melulu begadang. … Masih teringat jelas, itu adalah surat yang kutunjukkan untuk Rama pada bulan Januari lalu. Selepas aku menulis surat itu, aku mulai menata hidupku kembali. Memiliki lembaran baru, walau terkadang terselip bayangmu dihidupku. Aku sudah ikhlas dengan semua ini, toh cerita cinta seperti ini sudah banyak terjadi di kalangan manusia. Bahkan, ada banyak di luar sana yang ceritanya sangat dramatis. Ceritaku? Hah, tak ada apa-apanya. Empat bulan sudah surat untuk Rama tanpa balasan. Awal bulan, saatnya aku mulai fokus untuk tujuan akhirku sebagai seorang mahasiswa. Ya, aku harus bisa menyelesaikan tugas akhirku tepat waktu. Aku tidak mau...
Menulis bukanlah sebuah tuntutan. Terkadang dengan menulislah, kita dapat mengungkapkan apa yg ada dipikiran, diucapan, dan dihati..