Jakarta, 20 Januari 2018 Hay, Ram. Kau apa kabar? Bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Aku punya surat untukmu. Ini tentang aku, yang nyatanya kehilangan kamu. Ini tentang aku yang tidak bisa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Ini tentang pertemuan kita di kota Jogja. Kamu, yang mengajariku tentang banyak hal, termasuk untuk tidak melulu begadang. Kau telah membuatku frustasi. Kau telah membuatku untuk selalu memikirkan kamu. Padahal, aku tahu apa yang aku lakukan ini adalah salah. Pertemuan kita tidak berjalan lama. Kita hanya kenal beberapa bulan ini . Padahal, kita satu kampus, aku tidak tahu kalau ada mahkluk hidup seperti kamu, tapi kita dipertemukan karena sebuah kegiatan. Kau harus tahu, ternyata bayangmu selalu menghantuiku sampai saat aku menulis ini tentangmu. Lebih tepatnya, saat aku memimpikanmu, semalam. Aku gelisah. Mungkin memang aku harus mengungkapkan semuanya. Ah. Apa yang harus aku lakukan jika nyatanya aku merasa kehilanganmu? Kau membuatku nyaman...
Menulis bukanlah sebuah tuntutan. Terkadang dengan menulislah, kita dapat mengungkapkan apa yg ada dipikiran, diucapan, dan dihati..