Langsung ke konten utama

SURAT UNTUK RAMA


Jakarta, 20 Januari 2018

Hay, Ram.
Kau apa kabar? Bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Aku punya surat untukmu. Ini tentang aku, yang nyatanya kehilangan kamu. Ini tentang aku yang tidak bisa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Ini tentang pertemuan kita di kota Jogja. Kamu, yang mengajariku tentang banyak hal, termasuk untuk tidak melulu begadang.

Kau telah membuatku frustasi. Kau telah membuatku untuk selalu memikirkan kamu. Padahal, aku tahu apa yang aku lakukan ini adalah salah. Pertemuan kita tidak berjalan lama. Kita hanya kenal beberapa bulan ini. Padahal, kita satu kampus, aku tidak tahu kalau ada mahkluk hidup seperti kamu, tapi kita dipertemukan karena sebuah kegiatan. Kau harus tahu, ternyata bayangmu selalu menghantuiku sampai saat aku menulis ini tentangmu. Lebih tepatnya, saat aku memimpikanmu, semalam. Aku gelisah. Mungkin memang aku harus mengungkapkan semuanya. Ah. Apa yang harus aku lakukan jika nyatanya aku merasa kehilanganmu?

Kau membuatku nyaman dengan segala kesederhanaan yang kau punya.
Kau membuatku nyaman dengan selalu kehadiranmu disaat aku butuh.
Kau selalu membuatku merasa dihargai sebagai seorang wanita.
Kau membuatku nyaman, karena senyuman manismu.
Kau yang mau menerima segala masa laluku.
Kau yang tidak pernah kasar kepadaku.
Kau membuatku selalu tertawa karena pembahasanmu yang garing.
Kau membuatku jadi mabuk kepayang.

Aku ingat pernyataan yang kau berikan kepadaku, katamu begini “Rini, kalau nantinya lu gimana-gimana ke gue, dalam artian kurang nyaman jujur aja yaa Rin, jangan tiba-tiba pergi. Kalau elu jujur, gue bakal paham kok”.  Aku ingat sekali kata-kata itu, tapi nyatanya malah kamu yang menghilang, Rama. Aku tahu, kamu terlalu ragu untuk menjalani hubungan ini denganku. Kamu, selalu meminta kepastian tentang hubungan ini. Sedangkan aku? Aku merasa belum siap, karena masa laluku. Saat kamu berkata “Rin, gue mulai benar-benar baper sama elu. Cuma, akhirnya gue sadar diri, gue udah gak jelas, mungkin udah bikin elu ilfil. Maafin gue ya Rin kalau ada salah. Rini baik-baik yaa, jangan bandel, jangan begadang melulu, jangan genit sama laki-laki lain. Kalau sama Rama, boleh. hehehehe”. Dalam hati, aku senang bukan main karena aku tahu nyatanya kamu punya rasa padaku. Tapi, aku juga ragu apakah kamu ini nyata atau tidak, hehe perasaannya maksudku.
Aku hanya membalas, “Terus sekarang harus bagaimana?” Kau bilang lagi, “Yaudah, gak gimana-gimana. Gue takut lu banyak yang deketin dan mungkin balikan sama mantan elu. Yang lebih gue takutin adalah kalau nanti Rama udah beneran sayang dan nyaman, lu malah ke orang lain. Gue cemen banget yaa Rin, hehehehe”. Ya, aku tidak tahu dengan keadaan seperti ini, antara senang dan sedih bersatu. “Gue gak bisa maksa perasaan seseorang sih, ga bisa juga maksa jalannya pertemanan ini mau gimana. Rini gamau Rama mikir yang aneh-aneh aja. Lagi pula, Rini seneng bisa dapet kenalan baru, Ram”, ucapku. Ah, kenapa aku tidak bisa tegas dengan perasaanku ini. Kenapa aku tidak bisa memilih. Kenapa aku terlalu ragu. Kenapa aku membuat dia kecewa. Kamupun hanya membalas senyuman.

Kamu juga selalu komentar dengan tingkah lakuku yang centil di sosial media, hehe.
Kamu selalu membuatku kesemsem sendiri.
Kamu selalu hadir dimimpiku sampai saat ini.
Kamu yang punya panggilan khusus untukku.
Kamu yang selalu bilang aku lucu.
Aku lucu karena kamu terlalu cemburu, bahkan dengan teman kelompokku sendiri.
Aku lucu, karena kamu selalu meminta maaf dengan perasaan yang kau punya ini.

Kau ingat? Kencan pertama kita di warung kecil dekat arena futsal. Aku memesan green tea, dan kamu ice coffe. Kita banyak bertukar cerita. Cerita hobimu, kuliahmu, kelompokku, kelompokkmu, kebiasaanku, masalahku, dan banyak lagi. Sampai akhirnya kita hanya diam, karena kehabisan bahan untuk bercerita. Untung saja, suara di arena ramai, jadi tidak hening. Dan itu bisa membantuku untuk melihat kamu yang asyik membuka Instagram. Kamu manis, Ram.
Oh ya. Kau ingat ini? Kau pernah mengajakku untuk ke rumahmu yang tidak jauh dengan lokasi kegiatan kita. Kau mengenalkan aku ke ibumu. Aku suka dengan ibumu. Aku juga suka kamu, hehe. Keluargamu baik, Ram. Kita makan berdua, sesekali bercanda. Kau ceritakan tentang keluargamu. Kita duduk berdua, saling diam satu sama lain, dan sesekali aku melirik ke kamu. Aku ingat, saat kamu mengajakku kencan di pasar. Lucu yaa kalau dipikir-pikir. Kita berkeliling ke pasar untuk mencari baju kegiatan kamu, kamu bilang “Kita mau beli baju samaan juga gak? Jadi, kalau nanti kondangan, elu perginya sama gue. Yaa, atau gausah pergi sama gue gapapa, biar jadi kenang-kenangan aja, hehehe”. Seandainya aku mengiyakan, pasti saat ini aku punya barang yang samaan dengamu, sebagai pengobat rindu, hehehe. Tidak ada kata romantis, tapi begitu sederhana dan membuat nyaman. Kamu minta maaf karena tidak bisa seromantis orang lain, hehe ada-ada saja kamu. Kau menggandengku, karena takut aku hilang. Ya, soalnya aku bukan pengingat jalan yang baik. Dan saat itu pula, aku ingin rasanya lebih lama lagi bersamamu.
Hubungan kita berjalan dengan baik. Setiap malam kita selalu berbincang via telepon atau video call. Kamu membuatku lupa akan masa laluku. Kau datang disaat aku sedang terpuruk dan kau kembali memulihkan hatiku yang pernah hancur karena orang lain. Saat itu aku adalah orang yang sangat bahagia. Sampai akhirnya kamu memberikanku pesan, “Maafin gue selama ini ganggu, bahkan sok-sokan kepedean untuk deketin elu. Gue tau selama ini banyak hal yang lu tutupin, tapi gue gak berani untuk intervensi segala urusan lu, karena gue bukan siapa-siapa. Buat perasaan gue, gue serius dan bukan ngalus aja. Mungkin ada laki-laki lain yang lain deket sama lu, gue tau kok sedikit karakter lu hehe. Sekali lagi maafin gue ya dan semoga yang terbaik dan terpantas buat lu hehe. Jujur, berat banget. Cuman, gue gamau sakit hati terus, gue tulus ko sama Rini. Cuman, gue melankolis banget hehehe. Pesan gue, Rini harus bisa sama satu orang aja. Jangan dimainin yang lainnya, kasian. Rama minta maaf, jangan nyangka kalau Rama gamau nungguin Rini, tapi Rama tau kalau banyak laki-laki yang lagi deketin Rini. Rini fokus sama satu orang aja ya. Total buat sayangin satu orang. Jangan main-main dalam asmara, berat, hehehe. Rama janji bakalan hapus perasaan sayang dan nyaman Rama ke Rini. Rama gamau Rini begini”.
Hatiku saat itu hancur. Kesedihanku bertambah, bukan hanya karena aku harus berpisah kehilangan teman-temanku, tapi juga kehilangan kamu. Aku hanya membalas singkat, “Ih kok jadi sedih begini sih?”, kau membalas “Mudah-mudahan di lain waktu kita bisa bahagia bareng-bareng Rin, gue berharap gitu. Jaga diri yaa, emang kita baru kenal. Cuman untuk jatuh hati sama Rini, pengalaman luar biasa. Ini bukan masalah besar buat Rini. Gue Cuma mau bahagia dan liat lu bahagia sama yang lain. Lu gak akan bahagia sama lebih dari satu laki-laki, Rin. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya, belajar gila bareng lagi di waktu dan tempat berbeda, tapi dengan perasaan yang sama.”
Saat itu juga, malam terasa semakin dingin dari biasanya. Ku duduk di lantai dua, memandang langit dengan bintangnya. Berharap ada bintang jatuh, dan aku bisa meminta untuk tidak menghilangkan kamu dari aku. Saat itu, hubungan kita menjadi biasa saja. Kemudian, acara di Jogja pun usai. Tapi, kau memastikan agar aku sampai rumah dengan selamat. Beberapa hari acara usai, kau masih seperti biasa saja. Masih menghubungiku, kita video call. Tapi, tak lama kau benar-benar pergi. Kita berpisah, tak pernah bertemu lagi sampai saat ini. Aku hanya bisa melihat keadaanmu dari sosial media. Sesekali aku suka membalas story Instagram, hanya karena rindu.
 Kemudian, aku mendengar kabar dari temanku bahwa kamu menghilang tiba-tiba, karena kamu sudah tidak punya perasaan seperti dulu lagi. Ternyata perasaan kamu hanya sesaat, Ram. Kamu hanya memiliki perasaan itu saat kita di Jogja. Entah, itu adalah alibimu atau memang itu benar adanya. Pernyataan itu aku lihat sendiri, dan itu menyakitkan. Tapi, aku tidak peduli, Ram. Aku ingin kamu yang berkata langsung itu kepadaku.
Hatiku pernah sakit karena masa lalu, kemudian kamu hadir dan membuat hidupku menjadi lebih baik. Tapi, kau juga membuat hatiku hancur, Ram. Aku menulis ini dan playlist laguku berputar pada lagu yang pernah kau nyanyikan untukku. Kau ingat? Ya, lagu can’t take my eyes off you. Kau pernah menyanyikan lagu itu saat kita berbincang. Lagu itu kau nyanyikan saat sepulang dari Jogja, saat kau masih baik-baik saja, sebelum kau menghilang. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ah, aku semakin tak kuasa menuliskan ini semua. Kau benar, Ram. Aku seharusnya tidak melakukan ini padamu. Aku seolah-olah memberi harapan yang tak pasti padamu. Aku salah. Kau berhak bahagia, Ram. Mungkin bahagiamu bukan denganku. Aku tidak bisa memaksakan bahwa kamu harus selalu mencintaiku. Dan aku harus bisa mengikhlaskan semuanya. Sekarang, hubungan Rini sama mantan Rini sudah baik-baik saja kok, sudah lebih membaik, tapi tidak untuk hati ini, Ram. Rini selalu memikirkan Rama, mungkin karena Rama yang tiba-tiba hilang dan Rini belum bisa menyatakan perasaan Rini ke Rama. Rini gatau harus menghubungi Rama secara langsung atau tidak, karena Rini takut. Akhirnya, Rini beranikan diri untuk membuat tulisan ini, khusus untuk kamu.
Maaf ya, Ram. Sekarang Rini udah lega. Rini udah bisa menyatakan apa yang Rini pendam selama ini. Semoga Rama bahagia ya. Kalau Rama sudah membaca ini, kuharap Rama mengerti. Tulisan ini, Rini buat dengan jujur, Ram. Jangan anggep Rini bohong agar Rama kembali, tidak kok. Hm, kira-kira apakah di sana kau rindukan aku? Seperti diriku yang selalu merindukan kamu, kau hadir lewat mimpi. Apakah kau juga memimpikan aku? Hehehehe, bercanda kok Ram. Semoga benar katamu, Ram. Kita dapat bertemu dengan perasaan yang sama. Kita pernah punya janji untuk pergi berdua, bukankan kau ingat itu, Ram? Hehehe, tidak kok. Ini bukan kode. Aku hanya mencairkan suasana saja. Terima kasih, Ram telah hadir dikehidupanku. Aku juga bahagia bisa bertemu, berkenalan, dan berteman denganmu. Kau mengajarkanku banyak hal, Ram.
Kau bisa membalas pesan ini jika kamu mau, tapi aku tidak akan memaksakan itu. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Itu saja. Akan tetapi, jika kamu ingin menjelaskannya secara detail dan jujur, aku akan senang hati, Ram.

Salam Rindu,
Pengagumu, Rini.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengelola Majalah Sekolah

Resume ke-11 Gelombang 27 Tanggal            : 14 September 2022 Tema                : Mengelola Majalah Sekolah Moderator        : Yandri Novita Sari Narasumber     : Widya Setianingsih, S.Ag. Holla… Keterampilan menulis bisa dipelajari dengan latihan menulis secara rutin. Melalui majalah sekolah, siswa dapat menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan atau cerita bergambar. Majalah sekolah dapat menjadi langkah awal kita sebagai guru untuk menggali dan mengasah potensi yang dimiliki oleh siswa. Nah, lalu bagaimana mengelola majalah sekolah? Pelatihan Belajar Menulis malam ini akan dibahas secara tuntas oleh Ibu Widya Setianingsih, S.Ag sebagai narasumber dan dipandu oleh Ibu Yandri Novita Sari. Umua nan alun satahun jaguang. (Umur   yang belum setahun jagung), Darah nan alum satampuak pinang. (...

Gagal Sekali, Berhasil Berkali-Kali!

  Resume ke-4 Gelombang 27 Tanggal            : 29 Agustus 2022 Tema                : Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi Moderator        : Rosminiyati Narasumber     : Aam Nurhasanah, S.Pd   Selamat malam semuanya! Si empunya blog kembali lagi untuk berbagi pelatihan hari ke-4 bersama Belajar Menulis PGRI gelombang 27. Pelatihan ini awalnya hanya pelatihan bagi guru-guru yang ada di sekitar Jabodetabek saja. Oh, tapi ternyata saya salah besar. Pelatihan ini diikuti oleh berbagai kalangan guru dari banyak wilayah. Salah satunya adalah ibu moderator pada pertemuan ke-4 ini, yaitu Ibu Rosminiyati. Beliau adalah seorang guru SMK Negeri   2 Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ternyata dunia maya memang benar-benar bisa membawa kita berselancar ke seluruh penjuru yang ada. ...

karena puisi

            Sahabat adalah segalanya karena sahabat, kita bisa meminta pertolongan. Karena pada dasarnya, kita adalah manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita itu hidup berdampingan. Walaupun banyak cacian, fitnahan dan ada kesalah pahaman tetapi, jika kita menjalani itu semua dengan hati sabar, ikhlas dan dengan senyuman kita pasti akan menjadi pribadi yang baik. Seperti lagunya JKT48 yang berjudul “Yuuhi wo miteruka” (apakah kau melihat mentari senja?). Ya, ini adalah kisah  gadis  remaja  dengan  sahabatnya. Gadis itu  bernama  Lia. Dia mempunyai  sahabat  bernama Ahmad.  Setiap  hari  mereka  selalu bersama,  canda,  sedih,  gombal-gombalan, marah-marahan  bersama. Banyak temannya yang mengira jika mereka berdua mempunyai hubungan lebih dari seorang sahabat. Tapi, semua berubah ketika mereka di SMA. Awal masuk SMA mereka masih...