Sahabat adalah segalanya karena
sahabat, kita bisa meminta pertolongan. Karena pada dasarnya, kita adalah
manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita itu hidup
berdampingan. Walaupun banyak cacian, fitnahan dan ada kesalah pahaman tetapi,
jika kita menjalani itu semua dengan hati sabar, ikhlas dan dengan senyuman
kita pasti akan menjadi pribadi yang baik. Seperti lagunya JKT48 yang berjudul “Yuuhi
wo miteruka” (apakah kau melihat mentari senja?).
Ya, ini adalah kisah gadis remaja dengan sahabatnya.
Gadis itu bernama Lia. Dia mempunyai sahabat bernama Ahmad. Setiap hari
mereka selalu bersama, canda, sedih,
gombal-gombalan, marah-marahan bersama. Banyak temannya yang mengira jika mereka
berdua mempunyai hubungan lebih dari seorang sahabat. Tapi, semua berubah
ketika mereka di SMA.
Awal masuk SMA mereka
masih bersama, tapi entah kapan dan karena apa semua itu berubah. Hampir selama
tiga bulan mereka tidak menyapa satu sama lain. Kata “Hai” saja sama sekali tak
terucap dari kedua bibir sahabat itu. Entahlah apa yang terjadi. Lia menganggap
Ahmad berubah semenjak masuk SMA. Begitupun dengan Amad menganggap Lia yang
berubah. Sudah tak ingin menyapanya lagi, dan beranggapan bahwa Lia hanya
memanfaatkan Ahmad.
Tak ada yang tahu
alasan apa yang membuat mereka seperti ini. Teman sekelasnya tak biasanya
melihat kemarahan yang berarti diantara mereka. “elu ngapah ama si Ahmad?
Biasanya akur banget udah kayak duit ama dompet”. Tanya teman sebangku Lia. Lia
hanya tersenyum manis, dia tidak tahu apa yang mau diceritakan. “gapapa kok,
cuma lagi mau menyendiri ajah” ujarnya dengan hati yang dewasa.
Suasana kelas berubah semenjak
mereka bertengkar. Tak ada canda diantara mereka. Lia yang biasanya ceria
dengan senyumnya yang menawan, kini tergantikan dengan kemurungan. Lia yang
biasanya menagih uang kas dengan cerewet, kini hanya menagih dengan senyuman.
Semuanya berubah!
Suatu hari, setelah
shalat Dzuhur berjama’ah di sekolah, Lia dan teman-temannya masuk kelas. Tapi,
saat Lia ingin memasukkan buku pelajaran kedalam tasnya, ada selembar kertas
dimeja dengan tulisan “BERUBAH”. Hah? Bagaimana mungkin ada kertas dimeja itu,
siapa yang menulisnya? Fikir Lia dalam hati. Lia hanya bisa menangis membaca
surat itu, pasti itu perbuatan Ahmad. Lia pun sedih dan kecewa, namun dia juga
kesal, apa maksudnya Ahmad menulis surat itu.
Ahmad kemudian masuk,
dan melihat Lia yang sedang sedih bercampur kesal itu. Namun, dia tak merespon
apa-apa. Dia tidak menemui Lia yang sedang sedih karena ulahnya. Teman-teman
Lia menghiburnya, agar Lia tak bersedih lagi. “udah dong Li jangan nangis lagi,
elu itu cewe tegar, elu jelek ah kalo nangis. Udah jangan nangis lagi” ucap salah
satu temannya. Tapi, Lia hanya diam dan tersenyum “makasih yaa, engga kok gua
ngak nangis. Gua bingung ajah, apa salah gua? Kenapa dia bilang gua berubah?
Yang berubah itu dia bukan gua. Kalo emang gua berubah, ngomong depan gua,
jangan beraninya lewat surat” jawab Lia dengan sedikit kesal, dan menyindir
Ahmad yang berada di luar.
Disobeknya kertas itu,
Lia pun ngomel-ngomel sendiri di kelas. Temanya hanya terdiam, mereka tahu Lia
sedang emosi. Lia pun membuang robekkan kertas itu, dan tepat di depannya ada
Ahmad. Dengan langkah membentak, Lia membalikkan badannya. “woy!! biasa aja
dong” ucap Ahmad. “gua udah biasa, elu tuh yang berubah! Berani ngomong di belakang,
di depan sini kalo emang lu cowo.” Jawab Lia dengan emosi.
Besoknya, seperti biasa
Lia menjalankan aktivitasnya sebagai pelajar. Dan hari itu ada pelajaran Bahasa
Indonesia. Bu Fatimah, nama guru itu menjelaskan bahwa mereka akan membahas dan
membuat puisi. Puisi? Ya, senangnya Lia membuat puisi. Tapi, Lia bingung ingin
membuat puisi apa. Dia tidak terlalu mahir dalam merangakai kata-kata.
“eh, gua nulis apaan?
Gua gamau tentang cinta, entar ketauan kalo gua lagi suka ama doi. Bantu cari
inspirasi dong” Tanya Lia ke Maya. “kenapa lu gak buat tentang sahabat aja?”
jawab Maya. “Hah? Males banget” Ucap hati Lia. Tapi Lia tak punya pilihan, di fikirannya
hanya ada kata sahabat. Ya, ditulisnya kata demi kata di buku harian Lia.
Dengan rasa kesal, sedih dia merangkai kata-katanya. Dan, saat itu pula air
mata Lia kembali jatuh. Dia tak sanggup lagi menulis tentang apa yang dia
sedang rasakan. Dan akhirnya, puisi itu dilanjutkannya di rumah seusai mengaji.
Keesokkannya, puisi
yang ditulis Lia sudah selesai, dan siap untuk dibacakan. Bu Fatimah pun
memberikan gulungan kertas yang berisikan nomor urut. Bu Fatimah akan menyebutkan
nomor secara acak. Anak-anak pun membacakan puisinya dengan bagus. Dan saat
giliran Lia yang membaca, Maya berkata “jangan ampe nangis ya Li bacanya”.
Dengan rasa yang percaya diri, Lia maju dan membacakan puisi tersebut. Semua
teman mendengarkannya dengan serius, namun tidak dengan Ahmad yang sedang asyik
bermain Handphone.
Di saat kata-kata
terakhir dalam puisi itu, Lia membacakannya dengan menangis, mulutnya kaku,
takbisa mengucapkan apa yang ada di teks. Dengan tangan yang gemetar, Lia
menangkat tangan kananya dan mengatakan “angkat jari kelingkingmu” dan Lia
mengakhiri puisinya, lalu kembali ke tempat duduknya. Tepuk tangan meriah
diberikan kepada Lia. Lia langsung memeluk Maya teman sebangkunya, dia berkata tidak
sanggup untuk membacakan puisinya tadi.
Bel istirahat pun berbunyi,
Nanda ingin melihat puisi milik Lia. Dari kejauhan, Ahmad pun penasaran dan meminjam
puisi tersebut. Keesokkannya Lia meminta kertas tersebut kepada Nanda.
“kertasnya diambil sama si Ahmad Li. Kemarin dia maksa mau liat” Nanda dengan
nada gugup menjawab. “mana kertas yang kemarin elu ambil paksa dari Nanda? Sini
balikikn ke gua! Udah gabilang sama gua, gapunya mulut apa lu buat bilang
minjem?” Tanya Lia dengan kesal. Kertas yang berisikan puisi itu ternyata
hilang. Tanpa rasa bersalah, Ahmad hanya bercanda dengan temannya. Kesal Lia pun
kambuh lagi, “elah… bisanya cuma ngilangin punya orang aja sih” ke Ahmad. Ahmad
pun menjawab “maap, Cuma kertas doang, ngak usah ampe segitunya”. Dengan
gampang Ahmad berkata seperti itu kepada Lia. Dia tidak tahu betapa sedihnya
Lia kehilangan selembar kertas itu.
Lia kesal karena
kertasnya hilang, padahal kertas itu ingin ditempel didinding kamarnya. Tapi,
mau bagaimana lagi? Kertas itu sudah tidak ada. Hari demi hari berlalu, setiap
permasalahan selalu ada jalan keluarnya. Begitu pula dengan persahabatan yang
dimiliki Lia sejak kecil hingga sekarang.
Lia sadar, tak
seharusnya Lia bersikap seperti itu kepada Ahmad. Bagaimanapun, Ahmad hanya
ingin tahu apa puisi itu. Lia pun tak pernah mengungkit masalah itu lagi. Saat
Lia ingin membuang sampah, tak sengaja Ahmad menabraknya. “sorry Li, ngak sengaja. Sumpah dah, jangan marah sama gua lagi, gua
capek dengernya”. Lia hanya terdiam. Dari kejadian ini, Lia tersadar dia tak seharusnya menyalahkan Ahmad. Tanpa
kata maaf dari keduanya, persahabatan
mereka pun kembali seperti dulu. Saling menegur walaupun teguran itu sering
membuat keduanya saling bertengkar. Apa karena puisi itu? Teman-temannya
bingung apa yang sebenarnya diantara kedua sahabat ini.
Tapi, yang terpenting buat
Lia kini adalah dia telah bersama sahabatnya kembali, Ahmad. Lia dan Ahmad pun
menjadi sahabat seperti dulu lagi. Suasana kelasnya tak seperti ruang
persidangan yang penuh dengan gugatan yang belum fakta. Suasana nyaman terasa
dikelas, walaupun terkadang mereka sering bertengkar karena ucapan yang menyinggung.
Ya, itulah sahabat. Sahabat ngak’ akan pergi walaupun kita menjauh. Sekalipun
ia menjauh, ia hanya ingin kita tersadar dari kesalahan yang kita perbuat.
Komentar
Posting Komentar