Langsung ke konten utama

Surat dari Rama


Jogja, 01 Mei 2018

Hay, Ram.
Kau apa kabar? Bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Aku punya surat untukmu. Ini tentang aku, yang nyatanya kehilangan kamu. Ini tentang aku yang tidak bisa mengungkapkan perasaanku kepadamu. Ini tentang pertemuan kita di kota Jogja. Kamu, yang mengajariku tentang banyak hal, termasuk untuk tidak melulu begadang.
…
Masih teringat jelas, itu adalah surat yang kutunjukkan untuk Rama pada bulan Januari lalu. Selepas aku menulis surat itu, aku mulai menata hidupku kembali. Memiliki lembaran baru, walau terkadang terselip bayangmu dihidupku. Aku sudah ikhlas dengan semua ini, toh cerita cinta seperti ini sudah banyak terjadi di kalangan manusia. Bahkan, ada banyak di luar sana yang ceritanya sangat dramatis. Ceritaku? Hah, tak ada apa-apanya.
Empat bulan sudah surat untuk Rama tanpa balasan. Awal bulan, saatnya aku mulai fokus untuk tujuan akhirku sebagai seorang mahasiswa. Ya, aku harus bisa menyelesaikan tugas akhirku tepat waktu. Aku tidak mau terlalu lama larut dalam kehidupan yang membuatku tidak produktif. Malam itu, aku sedang mencari bahan-bahan untuk skripsiku. Seperti biasa, selalu ditemani dengan segelas ice green tea, duduk tepat di bawah lampu pijar lengkap paket wifi tanpa hambatan.
Tak lama, handphoneku berdering. Ku lihat panggilan tak terjawab dari Rama. Aku pun terdiam sejenak, berpikir untuk apa dia datang. Aku tak menggubrisnya, kulanjutkan mencari bahan-bahan skripsku. Handphoneku bordering lagi, kali ini singkat. Rama mengirimku pesan, “Hay Rin, apa kabarmu? Rama mau bicara, tapi Rama rasa itu tidak perlu. Aku yakin, kamu sekarang lebih bahagia. Ku dengar kamu sedang dekat dengan orang lain. Rama hanya ingin memberi tahu, kalau Rama ada surat untuk Rini. Awalnya, Rama piker ini balasan ini akan menjadi basi, tapi Rama harus melakukannya agar tidak ada salah paham di antara kita berdua. Rama kirim balasan surat kamu di email. Jangan lupa dibaca yaaa. Selamat malam, semangat mengerjakan skripsinya. Ingat pesan Rama, jangan begadang. Kasihan badan Rini nanti.”
Aku hanya memandangi pesan itu, tanpa tahu reaksi apa yang harus aku keluarkan. Senangkah, sedihkah, kecewa, atau apa. Oya, setelah aku menulis surat pertamku, sebenarnya aku tidak benar-benar langsung lega. Aku selalu memimpikan dirinya, entah kenapa bisa begitu. Hampir setiap malam, padahal aku tidak sama sekali memikirkannya, tapi tetap saja selalu hadir. Ah kamu Ram. Semenjak itu, tidurku selalu tidak nyenyak dan aku mengirim surat ke Rama untuk kedua kalinya. Mungkin kalian bisa mengatakan aku bodoh, tapi maaf aku tidak peduli.
Begini isi suratnya,

“Rama? Sebelumnya maaf kalau aku tiba-tiba datang tidak jelas. Aku bingung sebenarnya, memikirkan apakah harus aku mengirim surat ini ke kamu atau cukup aku pendam. Sayang, aku kalah. Aku harus mengirim surat ini ke kamu. Hidupku merasa tidak tenang, karena selalu dihantui olehmu.
Apakah kamu ingat? Kita pernah sangat dekat sekali. Awalnya, aku sama sekali tidak mengenalmu. Lalu, kamu datang dan membuatku merasa nyaman dengan cara yang kau buat. Aku suka. Aku kira kita bisa bertahan sampai sekarang, tapi Tuhan berkata lain. Kamu tiba-tiba pergi begitu saja. Aku selalu mengelak kalau kamu sudah menanyakan perasaan padaku. Kataku, ‘aku tidak punya perasaan padamu, aku tidak takut kehilanganmu,’ dan sekarang aku menyesal. Aku kehilangan kamu, Ram.
Semenjak kegiatan kampus selesai, seharusnya kehidupanku berjalan normal seperti yang lainnya. Namun, tidak semudah itu. Aku sering memimpikan kamu. Ya, memang terkadang mimpi itu aku yang ingin. Tapi, saat aku sudah mulai melupakan kamu sedikit demi sedikit, kamu hadir sendiri dalam mimpiku. Dan semalam pun aku memimpikanmu, aku muak. Aku merasa ada hal yang belum selesai di antara kita berdua.
Terserah kamu mau bilang aku apa, anggap aku gimana. Aku hanya ingin tenang. Oya, sebenarnya aku tidak mau mengirim surat ini ke kamu, tapi aku memang bandel, Ram. Ngeyel kalo dikasih tahu. Hehehe.
Maaf yaaa. Tapi, aku ikhlas. Yang penting kamu tahu, bahwa aku kehilangan kamu. Terima kasih yaaaa, atas segala cerita yang pernah kita alami. Maaf, aku tidak bisa memendam semua ini terlalu lama, dan kamu harus tahu ini semua, Ram.”

Itu adalah surat yang kedua untuk Rama. Setelah aku mengirim surat itu, aku sudah benar-benar tidak peduli. Dan nyatanya kamu membaca suratku. Oke, aku putuskan untuk menyudahi tugasku. Lalu, aku membuka email darimu dan kubaca.
“Rini, aku mau minta maaf. Aku gak ada maksud untuk jahatin kamu, serius. Aku menghilang, karena aku gak mau nantinya kamu benci sama aku. Kamu gatau sifat asli aku, Rin. Aku bukan orang baik, dan gak sewajarnya bareng sama kamu. Aku yakin, nanti kamu bakalan ketawa sendiri karena udah ngelakuin hal yang gak guna kehilangan aku.
Lagi pula, kita masih bisa jadi temen kok, Rin hehehe. Masih bisa silahturrahiim. Masalah perasaan, itu masalah pikiran. Intinya, jangan pikirin yang gak guna, Rin. Sumpah, kamu pasti kesel kalau tahu aku itu nyolotin, ngeselin, dan gak bisa nyenengin, Rin. Sekali lagi, sumpah aku gak ada maksud jahatin kamu.
Rin, aku salah sudah pernah datang ke kehidupan kamu. Aku yakin kok seiring berjalannya waktu, perasaan kamu akan hilang. Balik lagi seperti semula, saat kita belum sama-sama kenal. Kamu itu cuma terbawa suasana aja lepas dari kegiatan kita di Jogja. Kamu gak benar-benar sayang sama aku, Rin. Oya, nanti kalau Rini udah punya pacar, Rini harus tulus sayangin dia. Jangan bikin dia sakit hati. Kamu berhak bahagia sama orang yang bisa bikin kamu senyum terus, Rin.
Sekali lagi, aku gak ada maksud jahat ke kamu, aku minta maaf yaa, Rin. Kita masih temenan kok. Rini semangat yaa.”

Aku senyum sendiri selama membaca surat itu. Surat yang sudah cukup lama lalu datang kembali. Sekarang aku tahu alasan kamu pergi, Ram. Terima kasih sudah mewarnai hidupku dengan singkat. Masa lalu, tidak akan pernah aku lupakan. Semakin aku melupakan, maka akan semakin sulit. Sekarang, aku hanya fokus pada hidupku. Menjadi wanita yang lebih tegar, dan selalu bahagia. Kita pernah sama-sama bahagia berdua, dan akan tetap bahagia meski sudah tak bersama.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengelola Majalah Sekolah

Resume ke-11 Gelombang 27 Tanggal            : 14 September 2022 Tema                : Mengelola Majalah Sekolah Moderator        : Yandri Novita Sari Narasumber     : Widya Setianingsih, S.Ag. Holla… Keterampilan menulis bisa dipelajari dengan latihan menulis secara rutin. Melalui majalah sekolah, siswa dapat menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan atau cerita bergambar. Majalah sekolah dapat menjadi langkah awal kita sebagai guru untuk menggali dan mengasah potensi yang dimiliki oleh siswa. Nah, lalu bagaimana mengelola majalah sekolah? Pelatihan Belajar Menulis malam ini akan dibahas secara tuntas oleh Ibu Widya Setianingsih, S.Ag sebagai narasumber dan dipandu oleh Ibu Yandri Novita Sari. Umua nan alun satahun jaguang. (Umur   yang belum setahun jagung), Darah nan alum satampuak pinang. (...

Gagal Sekali, Berhasil Berkali-Kali!

  Resume ke-4 Gelombang 27 Tanggal            : 29 Agustus 2022 Tema                : Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi Moderator        : Rosminiyati Narasumber     : Aam Nurhasanah, S.Pd   Selamat malam semuanya! Si empunya blog kembali lagi untuk berbagi pelatihan hari ke-4 bersama Belajar Menulis PGRI gelombang 27. Pelatihan ini awalnya hanya pelatihan bagi guru-guru yang ada di sekitar Jabodetabek saja. Oh, tapi ternyata saya salah besar. Pelatihan ini diikuti oleh berbagai kalangan guru dari banyak wilayah. Salah satunya adalah ibu moderator pada pertemuan ke-4 ini, yaitu Ibu Rosminiyati. Beliau adalah seorang guru SMK Negeri   2 Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ternyata dunia maya memang benar-benar bisa membawa kita berselancar ke seluruh penjuru yang ada. ...

karena puisi

            Sahabat adalah segalanya karena sahabat, kita bisa meminta pertolongan. Karena pada dasarnya, kita adalah manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita itu hidup berdampingan. Walaupun banyak cacian, fitnahan dan ada kesalah pahaman tetapi, jika kita menjalani itu semua dengan hati sabar, ikhlas dan dengan senyuman kita pasti akan menjadi pribadi yang baik. Seperti lagunya JKT48 yang berjudul “Yuuhi wo miteruka” (apakah kau melihat mentari senja?). Ya, ini adalah kisah  gadis  remaja  dengan  sahabatnya. Gadis itu  bernama  Lia. Dia mempunyai  sahabat  bernama Ahmad.  Setiap  hari  mereka  selalu bersama,  canda,  sedih,  gombal-gombalan, marah-marahan  bersama. Banyak temannya yang mengira jika mereka berdua mempunyai hubungan lebih dari seorang sahabat. Tapi, semua berubah ketika mereka di SMA. Awal masuk SMA mereka masih...