Langsung ke konten utama

Jujur, Aku Benci Padamu!



Namaku Lina. Aku adalah manusia yang sangat bahagia di dunia ini. Ya. Bahagia. Hidup yang sederhana dan serba apa adanya, itu kunci bahagia menurutku. Oh ya, perkenalkan juga Dika. Dia adalah salah satu alasan dari beribu alasan aku untuk hidup bahagia. Sudah cukup lama kita bersama, memadu kasih ala Romeo dan Juliet. Romantis. Sangat!!!
*
Tapi, bahagiaku berubah. Sudah sebulan. Ya, sebulan. Kamu hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Baumu di udara? Tidak ada sama sekali. Kemana perginya? Aku ingat sekali pesan terakhirmu itu. “Jangan tinggalkan aku, karena aku tidak sanggup untuk sendiri. Aku janji, aku akan membahagiakan kamu. Janji. Salam hangat, Dika.”
Tapi, sepertinya kamu lupa akan janji itu. Hmm, aku mencoba biasa saja. Menganggap semua baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa. Ya, aku bisa. Anggap saja aku bisa. Katamu, aku serba bisa. Pasti.
*
Malam. Malam terasa sangat dingin sekali. Apa kamu tahu? Aku sudah sedari pagi tidak keluar kamar. Rasanya tidak nafsu. Hanya duduk saja menghadap ke arah jendela, menghirup tiap hembusan angin yang berpapasan sejenak di hidungku ini, berharap bintang jatuh, dan aku bisa memohon, kembalikan kamu ke dalam pelukanku. Ah, aku manusia payah, Sayang. Buktinya aku tidak bisa.  Nyatanya aku tidak bisa menahan candu akan rindu ini. Nyatanya aku selalu ingin, ingin ahhhh bagaimana aku mengungkapkannya..
Apakah perasaanmu masih sama padaku?
Berubahkah perasaanmu padaku?
Jika iya, berubah bagaimana?
Apa kau semakin cinta?
Atau sebaliknya?
Jujur saja, Sayang..
Aku tidak ingin membuat hatimu merasa bersalah hanya karna untuk aku. Tidak perlu. Aku ini wanita strong, seperti yang selalu aku ungkapkan padamu, bukan begitu, Sayang?

Lalu, apa tanggapanmu? Ayolah, berbicara sayang. Jangan bungkam. Aku berbicara denganmu. Bukan patung. Jangan buat aku seperti orang gila, berbicara sendiri.
Ya, walaupun memang betul, nyatanya aku hanya berbicara pada tembok, tapi ada fotomu. Romantis kan? Ah cukup. Jawab pertanyaanku, atau kamu, kamu akan aku robek lalu akan aku bakar dan aku akan menangis sampai pak RT, RW, bahkan presiden datang ke rumah. Kamu mau?
Ayo jawab!!! Ah kamu payah. Menjawab pertanyaan semudah itu saja kamu tidak bisa. Kamu jangan main-main denganku yaa, atau kamu akan tau pembalasannya.

Jawab. Tanganku sudah penuh memar darah memukulimu dan kamu hanya tersenyum, yang senyuman itu membuat aku ini selalu memelukmu dan merasakan hangatnya suaramu.  Ahhhhh cukup. Jangan manja. Jangan basa-basi. Jawab.
*
“Hay, Sayang. Apa kabarmu? Baik-baik sajakah? Aku akan menjemputmu esok pagi, kita akan pergi berlibur. Kamu persiapkan semuanya ya sayang. Jangan lupa. Oh ya, aku sudah meminta izin pada ibu dan ayahmu, tenang saja. Sampai bertemu esok sayang, gadis kecilku. Titik dua bintang"
Tiba-tiba pesan masuk, dan kubaca itu darimu, Dika. Bahagia? Senang? Resah? Kesemsem? Sedih? Marah? Kecewa? Benci? Ah, aku sudah sangat rindu. Baik, kita akan bertemu.
*
Pemandangan yang indah. Hamparan sawah begitu terlihat jelas. Kita berdua duduk di tengah-tengah sawah. Ah, romantis. Ya, tapi sangat sunyi. Kita bisu. Suara sepasang jangkring nyatanya sangat suka mengejek kita berdua. Sesekali terdengar suara katak. Ahh. Payah. Akhirnya dengan segala keberanianku, aku berbicara padamu.

“Dika? Aku ingin bertanya sedikit padamu. Sepertinya kamu juga tahu apa yang aku ingin tanyakan. Hm, begini.. Apakah perasaanmu masih sama padaku?
Berubahkah perasaanmu padaku?
Jika iya, berubah bagaimana?
Apa kau semakin cinta?
Atau sebaliknya?
Jujur saja, Sayang. Aku tidak ingin membuat hatimu merasa bersalah hanya karna untuk aku. Tidak perlu. Aku ini wanita strong, seperti yang selalu aku ungkapkan padamu, bukan begitu, Sayang?” Tanyaku padamu dengan tatapan penuh harap-harap cemas.

Semilir angin, ah rasanya tenang. Tapi tidak dengan hatiku. Padi di sebelahku sudah menguning. Terkadang burung kecil hinggap mencari makan. Aku berharap kamu tidak membuat pelangi ini hilang. Aku percaya padamu. Tiba-tiba kamu memegang tanganku.

“Baiklah, aku rasa selama sebulan ini aku sudah salah meninggalkanmu tanpa kabar. Aku harap kamu tidak sakit hati karena tingkah lakuku. Jujur. Aku sudah tidak sayang padamu. Aku tidak memiliki rasa apapun padamu. Awalnya aku ingin berkata jujur sejak lama, tapi setiap pesanmu yang masuk, aku ragu untuk mengatakannya. Dan mungkin sekarang memang semuanya harus terungkap, Sayang. Maafkan aku telah membuat hatimu terluka. Tapi mungkin ini lebih baik.”

Terdiam aku dengan isak kecil, berupaya kuat untuk tetap sok kuat di hadapanmu. Bisu lagi. Sampai akhirnya, aku menangis setumpah-tumpahnya tangisan. Bak banjir kiriman yang tiba-tiba datang. Dan kamu hanya diam saja. Ah mana Romeomu itu, sayang? Julietmu sedang menangis dan kamu hanya diam saja? Kamu payah. Merontaku dalam hati, tidak terima akan semua ini.
Oh ya, Sayang. Apa kamu tidak ingat?
Kita pernah duduk berdua membicarakan hal-hal yang indah. Kamu berjanji akan menjadi pelangi dihidupku.  Setiap malam kamu selalu menelfonku hanya sebatas mengucap “I love you Lina", singkat tapi sangat ahhh… Aku tidak kuasa untuk mengingat semua masa indah bersamamu.

Kamu menghampiriku, mengajakku untuk berdiri. Menengadahkan kepalaku, menghapus air mata yang sudah banyak jatuh.
“Lina? Apa kamu menganggap semua ini adalah benar? Tengoklah aku, tatap aku. Lihat ini”
Kuberanikan untuk membuka mata. Apa itu? Seperti sebuah kotak. Kotak apa? Aku masih mengintip kecil. Ternyata sebuah kotak, memang kotak. Kotak apa? Aku lihat. Oh, kotak. Berisikan cincin bewarna putih. Oh. Hah? Cincin? Aku mencoba untuk menahan air mata ini.
“Cincin ini untukmu. Aku ingin mengajakmu menikah. Selama sebulan ini aku pergi ke kampung halaman meminta restu pada keluargaku. Aku juga sudah meminta restu kepada keluarga besarmu. Mereka semua menyerahkan padamu, iya atau tidak. Maaf sudah membuatmu cemas. Maaf sudah membuat kamu menangis. Kamu cantik jika menangis, seperti anak kecil. Aku ingin membawa pulang, untuk aku pajang, hehehe. Bagaimana? Romantis bukan? Cincin ini sangat pas di jarimu yang cantik. Cocok. Jadi? Iya atau tidak?”

Dammm..
Lagi-lagi aku adalah manusia yang sangat bahagia di dunia ini. Bagaimana tidak, Dika melamarku. Ah, rasanya kesendirian ini akhirnya berbuah manis. Aku seperti ingin terbang, berteriak sekencang-kencangnya “aku manusia paling bahagia di dunia ini". Ah, Sayang. Kamu memang sangat pandai membuat aku terenyuh padamu. Kamu hebat. Jelas, aku akan mengiyakan. Siapa yang tidak mau merajut jalinan kasih dalam pernikahan yang suci, terlebih lagi bersamamu. Ah, aku sangat bahagia. Jadi, begini caramu menyayangi aku? Kagum.
“Aku benci, sangat benci padamu. Kamu menghilang sebulan entah ke dunia siapa tidak memberi jejak, dan tiba-tiba kamu datang ke duniaku lagi, dan melamarku. Ah, kamu sangat jahat. Jelas. Untung saja aku tidak melaporkan kamu ke polisi, dengan status manusia hilang, haha. Sudah puas membuatku mati selama sebulan ini? Lalu, apa lagi yang akan kau perbuat? Lihatlah, aku semakin kurus. Gara-gara kamu! Kamu penyebab ini semua! Kamu harus bertanggung jawab. Titik. Kamu tidak boleh kemana-mana lagi, apa lagi menghilang! Menghilang tanpa jejak? Ah, cukup! Aku sangat sangat sayang, cinta padamu. Dan aku bahagia bersamamu. Terima kasih sayang.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengelola Majalah Sekolah

Resume ke-11 Gelombang 27 Tanggal            : 14 September 2022 Tema                : Mengelola Majalah Sekolah Moderator        : Yandri Novita Sari Narasumber     : Widya Setianingsih, S.Ag. Holla… Keterampilan menulis bisa dipelajari dengan latihan menulis secara rutin. Melalui majalah sekolah, siswa dapat menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan atau cerita bergambar. Majalah sekolah dapat menjadi langkah awal kita sebagai guru untuk menggali dan mengasah potensi yang dimiliki oleh siswa. Nah, lalu bagaimana mengelola majalah sekolah? Pelatihan Belajar Menulis malam ini akan dibahas secara tuntas oleh Ibu Widya Setianingsih, S.Ag sebagai narasumber dan dipandu oleh Ibu Yandri Novita Sari. Umua nan alun satahun jaguang. (Umur   yang belum setahun jagung), Darah nan alum satampuak pinang. (...

Gagal Sekali, Berhasil Berkali-Kali!

  Resume ke-4 Gelombang 27 Tanggal            : 29 Agustus 2022 Tema                : Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi Moderator        : Rosminiyati Narasumber     : Aam Nurhasanah, S.Pd   Selamat malam semuanya! Si empunya blog kembali lagi untuk berbagi pelatihan hari ke-4 bersama Belajar Menulis PGRI gelombang 27. Pelatihan ini awalnya hanya pelatihan bagi guru-guru yang ada di sekitar Jabodetabek saja. Oh, tapi ternyata saya salah besar. Pelatihan ini diikuti oleh berbagai kalangan guru dari banyak wilayah. Salah satunya adalah ibu moderator pada pertemuan ke-4 ini, yaitu Ibu Rosminiyati. Beliau adalah seorang guru SMK Negeri   2 Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ternyata dunia maya memang benar-benar bisa membawa kita berselancar ke seluruh penjuru yang ada. ...

karena puisi

            Sahabat adalah segalanya karena sahabat, kita bisa meminta pertolongan. Karena pada dasarnya, kita adalah manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita itu hidup berdampingan. Walaupun banyak cacian, fitnahan dan ada kesalah pahaman tetapi, jika kita menjalani itu semua dengan hati sabar, ikhlas dan dengan senyuman kita pasti akan menjadi pribadi yang baik. Seperti lagunya JKT48 yang berjudul “Yuuhi wo miteruka” (apakah kau melihat mentari senja?). Ya, ini adalah kisah  gadis  remaja  dengan  sahabatnya. Gadis itu  bernama  Lia. Dia mempunyai  sahabat  bernama Ahmad.  Setiap  hari  mereka  selalu bersama,  canda,  sedih,  gombal-gombalan, marah-marahan  bersama. Banyak temannya yang mengira jika mereka berdua mempunyai hubungan lebih dari seorang sahabat. Tapi, semua berubah ketika mereka di SMA. Awal masuk SMA mereka masih...