Langsung ke konten utama

SUDAH, JANGAN LAGI


Setiap pertemuan adalah rencana Tuhan, begitu juga dengan perpisahan. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari hidup ini, termasuk saat kita ditinggal pergi. Aku merasa, bahwa setiap hal dalam hidup ini, sudah ada waktunya masing-masing. Ketika Tuhan mengizinkan sesuatu untuk pergi, maka saat itu pula ada makna dan hikmah dibalik  semuanya. Terkadang, dia yang datang memberi kita kenangan. Pun, ada pula yang datang memberi memberi kebahagiaan. Dan, dia yang datang dan pergi untuk memberi pembelajaran. Terkadang, kita harus kehilangan seseorang untuk bisa menemukan diri kita  yang sesungguhnya.
…
Malam itu, suasana Yogya terasa lebih dingin dari biasanya. Aku sedang merapikan perlengkapan untuk kembali ke Jakarta, tempat tinggalku. Sudah pukul 10 malam, waktunya aku untuk tidur. Namun, tiba-tiba HPku berbunyi tanda pesan masuk. Ah sial, rupanya pesan dari salah seorang teman kampusku yang menanyakan soal tugas kuliah. Pikiranku buyar, mengingatkan kembali aku pada sosok Rama. Hush, semua sudah baik-baik saja. Tenang.
...
Aku sampai di Jakarta, melepaskan segala kerinduanku pada keluarga. Berkeliling Jakarta, menikmati ice green tea, bertemu dengan teman-temanku dulu. “Bagaimana liburannya di Yogya? Kerasan ndak ndok?, ibuku bertanya sambil menghitung persediaan barang di toko. “Alhamdulillah, di sana enak. Aku keliling Malioboro, naik delman, makan gudeg, ke candi, ahhh seru pokoknya. Aku bisa mengulang kejadian semasa aku tugas kuliah dulu mah”, sahutku dengan penuh antusias. “Yowes, sekarang kamu harus fokus sama tugas akhirmu yaaa. Mamah mau lihat kamu akhir tahun ini wisuda. Oke? Kalau sampai tidak, kamu harus ajak mamah keliling dunia hahahaha”. Hah, lagi-lagi tugas akhir. Ya, memang ada satu tugas yang belum aku selesaikan. Lulus kuliah. “Siap ibu bosss”, sahutku agak ragu.
16 Juli 2019, pertemuanku dengan dia. Salah seorang temanku dari fakultas lain. Rupanya dia akan melakukan sebuah penelitian di tempat aku bertugas waktu itu, Yogya. Pertemuan biasa, hanya membahas perihal tugas kuliah. Apa saja yang perlu di persiapkan, apa saja yang perlu dilakukan di sana, hanya terkait itu. Obrolan itu ditemani segelas susu jahe dan sate telur puyuh. Suasana angkringan kala itu terasa sepi, tentram, nikmat, angin terasa sangat sejuk malam itu. Malam seperti mengajakku untuk larut bersamanya. Obrolan kami ternyata sudah melampaui batas waktu, di jam tanganku waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Gawat, aku bisa menjadi babu nanti, hehehe.  Ya, kami terlalu asyik rupanya.  Sebagai perempuan yang masih ingin diakui oleh orang rumah sebagai anak, aku memutuskan untuk menyudahi pertemuan ini, toh apa yang ia ingin tahu sudah semuanya didiskusikan.
Lalu kami berpisah, tak ada yang spesial di malam itu. Semua berjalan seperti rencana, aku memenuhi janji dari seorang kawan yang ingin mengadakan tugas kuliah di Yogya. Jakarta malam itu cukup sepi, jalanan tidak terlalui ramai seperti yang sudah-sudah. Aku sampai di rumah, merebahkan tubuh yang sudah terlalu amat lelah. Hm, aku tidak pernah punya pikiran apa pun. Bulan bersinar terang, suara jangkrik menemani malamku sampai terlelap. Malam itu menjadi awal kisah kita.
Pagi terlalu cepat datang rupanya, seakan tak suka jika aku terlalu lama bermesraan dengan kasurku yang sudah lama tak ditemani. Pesan masuk dari kawanku, “Minggu kita ke puncak yuk, bisa?” Aku tidak menghiraukan pesan itu, aku lebih memilih untuk bertemu dengan teman-temanku di kampus. Tapi, seperti ada yang mengganjal kalau aku belum membalas pesan dari orang lain. Ditemani dengan ice green tea aku membalas dengan santai, “kita lihat nanti yaaa, sepertinya aku tidak bisa, karena ada agenda yang harus aku temui.” Yups, pertemuan kita gagal. Selanjutnya, kita bertukar cerita via chat, menyenangkan rupanya. Padahal kata orang, aku termasuk orang yang susah dan malas untuk basa-basi.
…
Waktu terus berjalan memutar 24 jam dalam sehari. Tak ada yang bisa menambah atau mengurangi sang waku. Hingga sampai di mana hari yang seharusnya tidak pernah terjadi. Ya, seminggu kemudian, kejadian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kejadian yang menurutku terlalu cepat untuk diucapkan. Dia meminta waktuku untuk bertemu di salah satu taman kota, yang aku pikir mungkin dia akan meminta restu untuk pergi ke Yogya hahahahaha. Nyatanya yaaa memang betul, tapi terlepas dari itu dia menyatakan apa yang tidak seharusnya dikatakan kepadaku. Aku kesal dengan perasaan yang tumbuh padanya untukku. Aku tidak suka jika ada orang yang suka denganku. Tunggu, bukan berarti aku tidak bersyukur atas rasa yang diberikan oleh Tuhan untukku. Akan tetapi, kisah cintaku yang lalu saja kandas tak terbalas dan kini aku dihadapkan kembali pada hal yang sama.
Bagiku, semua akan berubah jika nyatanya aku tidak merespon dengan baik.  “Aku merasa nyaman saat aku berada di dekatmu, kamu berbeda. Kamu unik, Rin. Oya, yang perlu kamu tahu, aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja, bagaimana nanti jawabanmu kelak aku akan terima.” Ucapnya dengan sangat serius. Entah, suasana taman waktu itu seolah mendukung. Langit sore terlihat begitu indahnya, ditemani kicauan burung, tanda senja akan segera datang. Ah, rasanya aku marah pada diri sendiri. Apa yang aku lakukan sehingga orang lain jatuh hati. Aku masih tak habis pikir, sampai dia berkata kembali “tidak perlu kamu pikirkan Rin, aku paham kok. Aku hanya ingin menyatakan perasaan aku saja. Kamu mau jawab atau tidak ya itu urusanmu dan menjadi hakmu. Aku berkata seperti ini, agar aku tidak terbebani oleh pikiran-pikiran tentang kamu saat di Yogya nanti. Hehehehe. Sudahhh, sudah. Kamu sedang tidak ujian skripsi, tidak dijawabpun tidak apa-apa”.
Senja selalu punya caranya sendiri untuk memancarkan indahnya. Perpaduan warnanya begitu cantik, membuat hati akan sejuk jika melihatnya. Ah, tapi tidak dengan hari itu. Senja kala itu tak seperti senja pada biasanya. Aku tidak suka.
Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya. Pertemuan kita belum lama, belum genap satu minggu. Apa iya aku harus percaya, bahwa cinta datang dari pandangan pertama? Aku menarik napas dalam-dalam, aku tidak berani menatap matanya. Segala rasa menjadi satu saat itu, “Jujur, aku bingung harus bilang apa wkwkwk aku, mmm, entahlah. Aku rasa, aku salah. Aku salah, karena sudah membiarkan kamu jatuh hati padaku. Terima kasih. Terima kasih sudah memiliki rasa untukku. Terima kasih untuk semuanya. Tapi, aku ragu apakah ini benar nyatanya atau tidak? Dalam waktu yang belum genap seminggu, aku tidak kenal kamu dan kamu pun tidak kenal aku.” Aku tidak tahu apakah ucapanku ini benar atau tidak. Perihal yang aku tahu adalah, saat kita sudah mengutarakan perasaan kepada seseorang, maka artinya kita juga harus siap menerima risikonya.
“Hahahahaha, iya. Aku tidak mau memaksakan perasaanmu untuk tumbuh sekarang juga. Ya, aku juga tidak tahu apa yang aku katakan itu adalah tepat atau tidak. Aku rasa, kamu wanita yang berbeda. Aku pernah kecewa dan menutup hati untuk semua wanita yang mendekatiku. Tapi, saat malam pertemuan itu, aku seperti menemukan jiwaku kembali. Terlihat berlebihan memang, tapi begini adanya. Aku pernah jatuh, sejatuh-jatuhnya karena wanita. Aku pernah tidak ingin berkenalan dengan wanita manapun. Awalnya aku pikir aku tidak akan menaruh rasa pada wanita sepertimu, aku hanya sebatas ingin mencari informasi. Tapi, ya itu. Aku ternyata kalah dengan perasaanku sendiri.” Katanya dengan sangat serius, sedangkan aku hanya diam saja mendengarkan.
Kumandang azan magrib terdengar dengan syahdu. Lantunannya membuat hati bagi siapa saja yang mendengar menjadi terasa lebih baik. Hari sudah hampir gelap, waktunya untuk kembali ke rumah. Sebelumnya, aku memutuskan “Terima kasih, aku tidak mau memberi harapan padamu. Aku tidak bisa menjawab iya. Tapi, silakan jika kamu ingin mengenalku lebih jauh. Aku tidak pernah menutup diri pada siapapun yang ingin mengenalku. Satu hal yang kamu harus tahu, aku tidak menjanjikan apapun padamu.” Sebuah penolakan yang sangat halus.
…
Nyatanya, aku dan dia berjalan mengikuti irama nada. Malamku menjadi malam yang kembali penuh warna, sudah tidak abu-abu lagi. Aku terlalu berpikir pendek. Aku menganggap, ini adalah kisah baruku. Terlepas dari masa lalu, ku rasa sekarang akan memberikan banyak kenangan indah. Ya, kini ceritaku bukan saja tentang tugas akhir, tapi tentang dia dan cerita Yogya. Hariku indah! Kegiatannya di Yogya yang selalu ia ceritakan padaku, membuat aku bernostalgia. Aku seakan kembali pada waktu di mana aku berada di Yogya. Pikiranku mengajak melayang menelusuri masa lalu. Aku dapat merasakannya. Merasakan indahnya kota Yogya di sore hari. Menikmati malam Yogya bersama dengan masyarakatnya. Semua begitu nyata dipikiranku, aku dapat merasakannya, walaupun semuanya sudah berlalu. Yogya. Kota dengan seribu cerita indah didalamnya. Kota dengan penuh keragaman yang membuat siapapun nyaman dan tak ingin pergi.
…
Dia bercerita banyak hal tentang kehidupannya. Aku bangga akan sosok laki-laki seperti itu. Dirinya menyadarkan banyak hal tentang apa yang aku tidak ketahui di dunia ini. Dia sosok laki-laki yang sudah membuatku merasa nyaman, sosok laki-laki yang selalu memberi pengertian dengan bahasa yang baik. Sosok laki-laki yang memberikanku banyak pengalaman baru. Sosok laki-laki yang mengubah cara pandangku. Dan dia, bagiku adalah sosok laki-laki yang lebih dari seorang kawan bercerita. Pun, untuk masalah hati, aku tidak bisa memastikannya.
Tidak terlalu banyak yang sudah diukir, tapi tidak terlalu sedikit juga. Ya, lumayanlah untuk menjadi sebuah kenangan. Melewati hari demi hari dengan suasana yang baru, nyatanya mengasyikan. Tidak ada yang pernah tahu rencana Tuhan akan seperti apa. Bagiku, berkenalan dengan orang sepertimu adalah suatu kebanggaan.
…
…
…
Hm,, tapi aku sadar. Aku tidak bisa selamanya seperti ini. Membiarkan dia bertahan dengan ketidakpastian. Membiarkan aku terlalu lama larut dalam perasaan yang tidak aku tahu pasti. Sebuah keputusan yang seharusnya tidak aku ambil sedari awal. Menjadi wanita penuh dengan keraguan, ah sangat tidak layak untuk dikagumi bukan? Hari demi hari telah berganti. Dan aku tidak bisa memungkiri, bahwa ini adalah waktunya untuk mengakhiri. Toh, ini adalah pilihan yang tepat. Nyatanya, memang dia pun memilih untuk meninggalkan. Itu tandanya aku harus siap pula untuk mengikhlaskan.
Meninggalkan bukan berarti menyerah. Pun, hidup masih begitu panjang, dunia masih sangat luas, dan kita belum menjelajahinya semuanya. Aku pernah terluka karena aku tidak segera berkata ‘iya’, dan kini terjadi lagi. Namun, ya karena nyatanya aku masih belum siap. Aku lebih bahagia seperti ini. Aku masih terlalu ragu, sungguh tidak baik. Ku rasa, Tuhan punya jawaban atas ini semua. Toh, kita hanya manusia biasa. Kita tidak bisa menghindari takdir semesta. Aku ikhlas, bagiku ini pilihan yang terbaik. Aku tidak ingin dia berada dalam keadaan yang mengambang. Hidupnya penuh dengan tujuan, dan aku tidak ingin menjadi penghalang. Aku yakin, di luar sana dia mendapatkan apa yang lebih baik. Wanita yang bisa memberikan kepastian dengan tegas. Satu hal yang aku yakini sedari dulu, rencana Tuhan lebih indah dari rencana manusia.
.
.
.
Ah, sial. Kembali aku harus merasakan kehilangan. Lagi dan lagi aku menangis karena kehilangan seseorang. Padahal memang akunya saja yang membuat ia pergi, hahaha. Duniaku terlalu lucu dan absurd untuk kalian baca. Terlalu gampang mengeluarkan air mata. Lantas, apa itu tandanya aku lemah? Cengeng? Hm, aku hanya berada di posisi tidak siap. Aku benci. Selama ini? Seolah semua yang ada dalam otak dan hatiku berkecamuk. Menyalahkan, memaki, meneriaki, mencemooh, ada sesuatu yang membuatku menjadi kesal sendiri. Ada kegelisahan di dalam diri ini yang aku tidak tahu bagaimana mengatasinya.
Dalam hati berkata:
Mengapa kau hadir kalau nyatanya akan pergi jua? Katamu, kau tak akan pergi. Namun rupanya? Kau pergi meskipun yaaa dengan membawa alasan. Aku benci dengan sebuah akhir. Lalu, nanti siapa yang akan menemaniku setiap malam? Siapa yang akan menceritakan dongeng tentang manusia yang kabur dari perantauan karena tak suka dengan takdirnya? Siapa yang akan memberikan aku wejangan? Aku kembali dalam ruang kosong. Mematung. Diam membisu, dan rasanya aku tak mau lagi membuka ruang itu. Biarkan ruang itu usang hingga hilang dengan sendirinya.
Aku pernah amat sangat membenci perpisahan. Namun, nyatanya perpisahan adalah takdir yang tak bisa kita hindari. Aku lebih memilih untuk mengambil semua hikmah dengan apa yang telah terjadi.
Terima kasih, sudah mau menemani hari-hariku menjadi berwarna.
Terima kasih, sudah membuka pandangan yang baru tentang hidup itu indah.
Terima kasih, sudah mau mengorbankan rasa walaupun tak terbalas.
Terima kasih, sudah mengembalikkan aku kepada apa yang harus aku lakukan.
Terima kasih, aku tidak akan pernah bersedih lagi.
Sejatinya, manusia hidup dengan duka dan bahagia. Manusia tidak selalu bahagia terus menerus, dan duka terus menerus. Kelak, saat bahagia akan menemukan duka. Begitu pula sebaliknya, setelah duka menerjang hidup, maka akan ada bahagia yang menghampiri. Lagi, hidup kita memiliki tujuan kan. Kejar tujuan, fokus pada hal itu. Urusan perasaan, aku akan belakangkan. Aku sadar, jika aku tidak mengenal diriku maka aku tidak akan mengenal Tuhan. Jika aku tidak mengenal Tuhan, maka aku akan lupa diri.
Aku yakin, Tuhan telah mempersiapkan semuanya yang lebih indah untuk aku, kamu, dan kita semua. Kita hanya perlu menjalani dengan ikhlas, semangat, senyuman, dan doa. Sudah, jangan ada lagi air mata yang mengalir. Jangan lupa untuk B A H A G I A!!!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengelola Majalah Sekolah

Resume ke-11 Gelombang 27 Tanggal            : 14 September 2022 Tema                : Mengelola Majalah Sekolah Moderator        : Yandri Novita Sari Narasumber     : Widya Setianingsih, S.Ag. Holla… Keterampilan menulis bisa dipelajari dengan latihan menulis secara rutin. Melalui majalah sekolah, siswa dapat menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan atau cerita bergambar. Majalah sekolah dapat menjadi langkah awal kita sebagai guru untuk menggali dan mengasah potensi yang dimiliki oleh siswa. Nah, lalu bagaimana mengelola majalah sekolah? Pelatihan Belajar Menulis malam ini akan dibahas secara tuntas oleh Ibu Widya Setianingsih, S.Ag sebagai narasumber dan dipandu oleh Ibu Yandri Novita Sari. Umua nan alun satahun jaguang. (Umur   yang belum setahun jagung), Darah nan alum satampuak pinang. (...

Gagal Sekali, Berhasil Berkali-Kali!

  Resume ke-4 Gelombang 27 Tanggal            : 29 Agustus 2022 Tema                : Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi Moderator        : Rosminiyati Narasumber     : Aam Nurhasanah, S.Pd   Selamat malam semuanya! Si empunya blog kembali lagi untuk berbagi pelatihan hari ke-4 bersama Belajar Menulis PGRI gelombang 27. Pelatihan ini awalnya hanya pelatihan bagi guru-guru yang ada di sekitar Jabodetabek saja. Oh, tapi ternyata saya salah besar. Pelatihan ini diikuti oleh berbagai kalangan guru dari banyak wilayah. Salah satunya adalah ibu moderator pada pertemuan ke-4 ini, yaitu Ibu Rosminiyati. Beliau adalah seorang guru SMK Negeri   2 Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ternyata dunia maya memang benar-benar bisa membawa kita berselancar ke seluruh penjuru yang ada. ...

karena puisi

            Sahabat adalah segalanya karena sahabat, kita bisa meminta pertolongan. Karena pada dasarnya, kita adalah manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita itu hidup berdampingan. Walaupun banyak cacian, fitnahan dan ada kesalah pahaman tetapi, jika kita menjalani itu semua dengan hati sabar, ikhlas dan dengan senyuman kita pasti akan menjadi pribadi yang baik. Seperti lagunya JKT48 yang berjudul “Yuuhi wo miteruka” (apakah kau melihat mentari senja?). Ya, ini adalah kisah  gadis  remaja  dengan  sahabatnya. Gadis itu  bernama  Lia. Dia mempunyai  sahabat  bernama Ahmad.  Setiap  hari  mereka  selalu bersama,  canda,  sedih,  gombal-gombalan, marah-marahan  bersama. Banyak temannya yang mengira jika mereka berdua mempunyai hubungan lebih dari seorang sahabat. Tapi, semua berubah ketika mereka di SMA. Awal masuk SMA mereka masih...