Resume ke-14
Gelombang 27
Tanggal : 21 September
2022
Tema : Kaidah Pantun
Moderator : Lely Suryani,
S.Pd., SD
Narasumber : Miftahul Hadi,
S.Pd.
Indonesia
memiliki kekayaan seni verbal yang sangat beragam, salah satunya adalah pantun.
Pantun merupakan bentuk puisi lama yang terdiri atas empat baris, dua baris
pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dua baris kedua disebut dengan
maksud atau isi. Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau
“deret”. Asal kata pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai
panutun, oleh masyarakat Riau disebut dengan Tujuk Ajar yang berkaitan dengan
etika. Pantun memiliki fungsi sebagai pemelihara bahasa, yaitu sebagai penjaga
fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Melalui pantun, seseorang
berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Secara umum, peran sosial pantun
sebagai alat penguat penyampaian pesan.
Beberapa daerah di Indonesia memiliki nama lain dari pantun. Sebagai contoh di Mandailing, Sumatera Utara, pantun dikenal dengan sebutan ende-ende. Pantun di daerah Sunda disebut dengan paparikan. Pada awalnya pantun merupakan tradisi lisan. Seiring berkembangnya waktu, maka pantun "naik kelas". Tidak hanya dituturkan saja dalam kehidupan sehari-hari, pantun kemudian dibukukan, dilombakan dalam berbagai event, serta diselipkan pada tiap kegiatan. UNESCO telah mengakui pantun sebagai warisan budaya tak benda pada 17 Desember 2022.
Nah, tentunya ketika menulis pantun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya:
1. Setiap bait pantun terdiri atas empat baris.
2. Setiap baris terdiri atas empat sampai lima kata.
3. Setiap satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata.
4. Pantun yang ditulis bersajak a-b-a-b.
5. Baris pertama dan kedua dalam pantun disebut sampiran atau pembayang.
6. Baris ketida dan keempat dalam pantun disebut isi atau maksud pantun.
Perlu diketahui bahwa pantun berbeda dengan syair. Dalam sebuah pantun, antara baris satu dan dua tidak ada hubungannya dengan baris tiga dan empat. Antara sampiran dan isi berdiri sendiri. Sedangkan dalam syair antara baris satu sampai empat saling berhubungan. Lalu, kalau yang hanya dua baris itu apa? Nah, kalau itu namanya adalah pantun karmina atau pantun kilat. Contoh dari pantun karmina:
Daun keladi susun di gerbong
Janganlah jadi orang yang sombong.
Antara baris satu dengan abris dua tidak berhubungan.
Selain itu, ada pula yang dinamakan dengan gurindam. Jumlah baris yang dimiliki sama dengan pantun. Akan tetapi, di dalam gurindam antara baris satu dengan baris dua saling berhubungan (sebab akibat). Contoh gurindam:
Jika selalu berdoa dan berdzikir
Ringan melangkah jernih berpikir
Nah, sekarang beberapa hal yang perlu diketahui dalam membuat pantun adalah dengan memahami kaidah pantun. Kita perlu tahu apa saja syarat-syarat sebuah kalimat dikatakan sebagai pantun. Selain itu, kita perlu memiliki pembendaharaan kata. Semakin banyak kita menguasai pembendaharaan kata, semakin mempemudah dalam menulis pantun. Ketika membuat pantun, usahakan membuat baris ketiga dan keempat (isi) terlebih dahulu. Jika isi pantun sudah kita buat, maka sampiran akan mengikuti. Saat membuat pantun, hindari penggunaan nama orang, nama merk dagang, dan pengulangan kata di setiap barisnya.

Komentar
Posting Komentar