Resume ke-5
Gelombang 27
Tanggal : 31 Agustus 2022
Tema : Menulis Buku
dari Karya Ilmiah
Moderator : Mutmainah
Narasumber : Noralia Purwa
Yunita, M.Pd.
Holla, sedikit terlambat untuk menulis
resume materi ke-5 ini, tapi it’s okay kok,
si empunya blog tetap konsisten menulis. Setelah empat pertemuan sebelumnya narasumber
memberikan materi yang ciamik, kali
ini Ibu Noralia memberikan materi yang isinya ‘daging’ semua. Yups, menulis buku dari karya ilmiah. Menulis
buku dari karya ilmiah bukanlah hal yang mudah, tidak bisa sekedar melakukan copy paste. Ada banyak perbedaan antara
keduanya. Meskipun lumayan rumit, sulit, dan memakan waktu, jika sudah ada
niat, dijamin akan terasa mudah, terlebih kalau sudah mengetahui cara dan
triknya.
Lalu, sebenarnya apa sih karya ilmiah? Karya
ilmiah adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya ilmiah merupakan sebuah gagasan
lengkap. Ketika menulis karya ilmiah, penulis diharapkan mampu untuk
mengomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gamblang agar
mudah dipahami. Beberapa contoh karya ilmiah, yaitu skripsi, tesis, PTK, karya
tulis waktu SMA, artikel ilmiah, dan laporan penelitian.
Ketika membuat karya ilmiah, tidak jarang
penulis harus begadang, membaca berbagai buku, mencari informasi, melakukan
revisi berkali-kali. Namun, sayangnya masih banyak karya ilmiah yang hanya
tersimpan di perpustakaan saja, sehingga pembacanya sangat terbatas. Lantas
apakah ada solusi agar karya ilmiah kita dapat dibaca oleh khalayak umum? Oh,
tentu saja ada kawan. Salah satu solusi yang dinilai lebih memberikan banyak
manfaat, yaitu mengubah karya ilmiah menjadi sebuah buku. Ada banyak manfaat
mengkonversi karya ilmiah menjadi buku, antara lain:
1.
Dapat dibaca oleh masyarakat awam,
2.
Ada keuntungan material dari penjualan buku,
3.
Bagi ASN, buku dapat dijadikan publikasi ilmiah yang
dapat menambah poin angka kredit. Jadi, selain mendapatkan poin AK dari laporan
PTK, juga akan mendapatkan poin dari publikasi ilmiah berupa buku,
4.
Penulis akan dikenal oleh banyak orang karena karya
yang dihasilkan,
5.
Ilmu yang dimiliki dapat tersampaikan kepada banyak
orang.
Kemudian, bagaimana cara mengubah karya
ilmiah menjadi sebuah buku? Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:
1.
Ubah judul
Judul karya ilmiah versi buku hanya berfokus pada
objek penelitian saja. Hilangkan materi, subjek, dan tempat penelitian.
Contoh:
Judul Tesis, Pengembangan
Modul Berbasis Riset pada Materi Reaksi Redoks untuk Meningkatkan Keterampilan
Generik Sains Siswa Kelas X SMA dapat diubah menjadi judul buku Kiat Menulis Modul Berbasis Riset.
Sebagai tambahan, kita juga dapat menambahkan kata
seperti, kiat, jurus, strategi, cara
sukses atau yang lainnya agar menjadi judul popular.
2.
Ubah daftar isi
Pada umumnya, daftar isi yang terdapat dalam karya
ilmiah berupa:
BAB 1 Pendahuluan
BAB 2 Landasan Teori
BAB 3 Metode Penelitian
BAB 4 Hasil dan Pembahasan
BAB 5 Penutup
Nah,
ketika diubah menjadi buku, daftar isi dapat diubah dengan mengikuti pedoman
2W+1H:
BAB 1 (Why)
menjelaskan pentingnya modul berbasis riset
BAB 2(What)
menjelaskan apa itu modul berbasis riset
BAB 3,4,5, dan seterusnya (How) menjelaskan bagaimana tahap pembuatan, bagaimana hasil pembuatan,
dan bagaimana penerapannya.
Contoh:
2.1.
Hasil Belajar
2.2.
Media Pembelajaran
2.3.
Modul
2.4.
Metode Pembelajaran
2.5.
Pembelajaran Berbasis Riset
Ketika
diubah menjadi buku dapat dibuat menjadi beberapa bab, yaitu:
Subbab
2.1. hasil belajar menjadi bab 2 buku.
BAB
2 TEORI BELAJAR
2.1.
Belajar
2.2.
Permasalahan dalam Pembelajaran
2.3.
Hasil Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya
(Sub
bab 2.2. media pembelajaran menjadi bab 3 buku)
BAB
3 MEDIA PEMBELAJARAN
3.1.
Pengertian Media
3.2.
Jenis Media
3.3.
Manfaat Media
Sub
bab 2.3. modul menjadi bab 4 buku
BAB
4 MENGENAL MODUL
4.1
Pengertian Modul
4.2
Karakteristik Modul
4.3
Sistematika Modul
4.4
Kelebihan Modul
Dan
seterusnya hingga sub bab 2 selesai.
3.
Ubah sedikit isi karya ilmiah
Dalam
mengubah karya ilmiah menjadi buku, penting sekali memperbanyak isi materi
variabel bebasnya. Kita dapat menentukan perluasan materi tersebut berdasarkan
kata kunci judul buku kita. Dengan kata lain, karya ilmiah yang diubah menjadi
buku berarti lebih memperluas isi bacaannya berdasarkan sumber yang relevan.
Misalkan
judul Implementasi Media Stereofoam
Pembelajaran Organisasi Kehidupan untuk Meningkatkan Kreativitas, maka yang
harus dikembangkan adalah tentang media (pengertian, manfaat, jenis), pembelajaran
(materi tentang belajar mengajar), kreativitas (diberi pengertian dan lainnya).
Hilangkan semua kata penelitian/laporan PTK, laporan skripsi dan lainnya yang
biasanya ada di karya ilmiah. Selain itu, gunakan tabel grafik seperlunya saja.
4.
Secara kebahasaan dan penyajian, karya ilmiah versi
buku haruslah berbeda dengan versi laporan
Susunan
dan gaya tulisan kembali kepada penulis, karena setiap penulis memiliki ide dan
kreativitas masing-masing sesuai dengan pengalaman dan bahan bacaannya. Semakin
literatnya penulis, maka akan semakin bagus pula buku yang ditulis. Hal ini
karena membaca, berpikir, dan menulis adalah satu rangkaian literasi yang tidak
dapat dipisahkan. Selain itu, kita harus mengupayakan agar pembaca memahami isi
buku kita secara lengkap, dan mengena apabila menjadi karya ilmiah kita diubah
menjadi buku.
5.
Daftar pustaka boleh menggunakan blog
Penggunakan blog hanya boleh pada situs blog resmi,
seperti Kemendikbud.go.id, jurnal
ilmiah, e-book, atau karya ilmiah
lainnya. Hindari penggunaan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain
blogspot, wordpress, dan lain sebagainya.
6.
Berikan ulasan
Berilah ulasan mengenai kelebihan dan kelemahan
penelitian yang Anda lakukan agar pembaca yakin bahwa Anda benar-benar telah
melakukan penelitian tersebut.
7.
Format karya ilmiah
Pada umumnya, karya ilmiah dalam versi buku memiliki minimal
70 halaman dengan format kertas berukuran A5, menggunakan huruf, jenis huruf,
dan margin yang disesuaikan dengan aturan penerbit.
Membuat buku dari karya ilmiah bukan
berarti hanya mengubah cover dan judul saja, tetapi kita harus mengubahnya
sesuai dengan aturan yang ada, sehingga KTI versi buku tidak akan sama struktur
dan isinya dengan KTI aslinya. Apabila kita hanya mengubah cover dan judul
saja, itu merupakan tindakan self
plagiarisme untuk karya kita.
Apabila buku dianggap terlalu rumit, masih
ada cara untuk mengubah karya ilmiah yang dibuat, yaitu dengan mengubahnya
menjadi artikel. Kemudian, langkah yang perlu dilakukan, sebagai berikut.
1.
Abstrak
Berisi latar belakang singkat, tujuan penelitian,
metode penelitian, hasil penelitian, dan simpulan. Tidak boleh ada sitasi dalam
abstrak.
2.
Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah, tinjauan pustaka secara
singkat, dan tujuan penelitian.
3.
Metode penelitian
Berisi sampel penelitian, prosedur penelitian (dalam
bagan saja), dan analisis penelitian.
4.
Hasil dan pembahasan
Berisi hasil penelitian berupa grafik, tabel atau
diagram serta pembahasan mengapa mendapatkan hasil demikian yang dikaitkan
dengan teori yang ada.
5.
Simpulan
Menjawab tujuan penelitian
Kesulitan terbesar dalam menulis KTI adalah
mengalahkan mood untuk tidak menulis
dan berkarya. Tetap semangat dan selalu berlajar. Menulislah, karena dengan
menulis karya kita tidak akan lekang oleh waktu tentang kebermanfaatannya.

Komentar
Posting Komentar